Part 2 – Tidak Memanggil Tuhan Selain Allah
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ
“Dan orang-orang yang tidak menyeru (memanggil) tuhan yang lain bersama Allah.”
(QS. Al-Furqan: 68)
Ayat ini menggambarkan salah satu ciri ‘Ibadurrahman — hamba-hamba Allah yang penuh kasih — yaitu mereka tidak menyeru, tidak meminta, dan tidak berharap kepada selain Allah.
Makna Kata “Yad‘ūna” (يدعون)
Kata يدعون berasal dari da‘ā – yad‘ū yang berarti memanggil, berdoa, meminta, atau memohon pertolongan.
Maka, kalimat “لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ” bukan sekadar “tidak memanggil selain Allah”, tapi bermakna tidak meminta tolong, tidak memohon perlindungan, dan tidak berharap kepada selain Allah.
Karena siapa pun yang berdoa, meminta, atau berharap kepada selain Allah, berarti dia telah menyekutukan Allah (musyrik) dalam hal ibadah.
Kenapa Memanggil Selain Allah Dianggap Syirik?
Kata “يدعون مع الله” (memanggil bersama Allah) artinya berdoa kepada Allah, namun di saat yang sama juga berdoa atau meminta kepada selain Allah.
Jadi bukan berarti meninggalkan Allah sepenuhnya, tapi menyamakan makhluk dengan Allah dalam hal permohonan dan doa.
Inilah bentuk syirik yang paling banyak terjadi sejak zaman dahulu hingga sekarang.
1. Memanggil Allah, tapi juga memanggil selain Allah
Kaum musyrikin Quraisy dulu tidak menolak keberadaan Allah.
Mereka tahu Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi.
Namun, mereka berdoa kepada Allah ketika butuh, tapi juga memanggil berhala agar menjadi “perantara” kepada Allah.
Mereka berkata:
“Kami tidak menyembah mereka (berhala) kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”
(QS. Az-Zumar: 3)
Jadi, mereka beribadah kepada Allah, tapi juga meminta kepada selain Allah.
Itulah makna “memanggil bersama Allah” —
yaitu meminta kepada Allah dan kepada berhala, batu, pohon, kuburan, atau makhluk lain secara bersamaan.
2. Mengapa Itu Disebut Syirik?
Karena doa adalah inti ibadah.
Ketika seseorang meminta kepada selain Allah, berarti ia telah memberikan sebagian ibadahnya kepada makhluk.
Padahal ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.
Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kamu menyembah siapa pun bersama Allah.”
(QS. Al-Jin: 18)
Artinya, siapa pun yang menyeru Allah tapi juga menyeru makhluk, ia telah menyamakan makhluk dengan Sang Pencipta — inilah hakikat syirik.
”
Kisah Imran bin Hushain
Sebelum masuk Islam, Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu ditanya:
“Berapa tuhanmu yang kau sembah?”
Ia menjawab, “Ada tujuh — satu di langit dan enam di bumi.”
Ditanya lagi, “Kalau kau butuh pertolongan, kepada siapa kau meminta?”
Ia menjawab, “Kepada yang di langit.”
Nabi ﷺ berkata,
“Kalau begitu, tinggalkan enam yang di bumi dan sembahlah hanya yang di langit.”
Imran akhirnya sadar bahwa dirinya dulu musyrik, karena meski mengenal Allah, ia juga memberi tempat ibadah kepada selain-Nya.
Dan inilah bentuk syirik campuran yang juga bisa terjadi pada manusia zaman sekarang.
👤 Empat Golongan Manusia dalam Tauhid
-
Beribadah kepada Allah dan hanya meminta kepada Allah
– Inilah hamba sejati, ahlus tauhid.
Segala harap, doa, dan pertolongan hanya kepada-Nya. -
Beribadah kepada Allah, tapi meminta pertolongan kepada selain Allah
– Ini termasuk syirik dalam doa.
Misalnya: berdoa kepada wali, kuburan, atau benda yang dianggap “punya kekuatan gaib”. -
Tidak beribadah kepada Allah, tapi ketika kesulitan ia berdoa kepada Allah
– Ini disebut dalam Al-Qur’an:
ketika mereka di lautan diterpa ombak, mereka berdoa kepada Allah;
namun setelah diselamatkan, mereka kembali lupa (QS. Yunus: 22-23). -
Tidak beribadah dan tidak berdoa kepada Allah sama sekali
– Inilah kelompok yang paling jauh dari petunjuk.
Lawan Tauhid Adalah Syirik
Tauhid berarti mengesakan Allah dalam ibadah, doa, dan ketergantungan.
Sedangkan syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal itu.
Seluruh nabi dan rasul — termasuk Nabi Muhammad ﷺ — datang untuk menegakkan tauhid dan memerangi segala bentuk syirik.
Kisah Nabi Nuh ‘alaihis-salām
Dalam Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir disebutkan,
ketika Nabi Nuh mengajak anaknya naik kapal, ia berkata:
“Wahai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.”
(QS. Hud: 42)
Anaknya menjawab:
“Aku akan berlindung ke gunung agar selamat dari air.”
(QS. Hud: 43)
Nabi Nuh berkata:
“Tidak ada yang dapat melindungi dari ketetapan Allah hari ini kecuali yang dirahmati-Nya.”
Namun anaknya tetap menolak dan akhirnya tenggelam.
Inilah bentuk syirik dalam perlindungan — ia meminta perlindungan kepada gunung, bukan kepada Allah.
Bentuk Syirik di Zaman Sekarang
Dulu, kaum musyrikin menyembah batu, pohon, sungai, atau patung.
Sekarang, sebagian manusia menyembah diri sendiri, kepintaran, jabatan, atau logika.
Mereka yakin:
“Kalau aku pintar dan kerja keras, pasti sukses.”
Padahal usaha itu kewajiban, tapi hasilnya tetap pemberian Allah.
Ungkapan seperti “usaha tak pernah mengkhianati hasil” terdengar bijak,
tapi bisa menjerumuskan jika menghapus peran Allah dalam takdir dan rezeki.
Penutup: Usaha Adalah Kewajiban, Rezeki Adalah Pemberian
Kita wajib berusaha sekuat tenaga —
tapi hasilnya tetap milik Allah.
Jadi, jangan pernah bergantung pada usaha,
tapi bergantunglah kepada Allah yang memberi hasil dari usaha itu.
Inilah hakikat tauhid yang diajarkan para nabi, dan inilah jalan Ibadurrahman sejati.
