HARTA YANG MENJADI SIKSA

Hampir setiap manusia ketika di tanya akan cita-citanya,nyaris tak melewatkan untuk bercita-cita memiliki harta yang banyak. Banyaknya harta menurut gambaran kebanyakan akan menjadi syarat bahagia. Sehingga perjuangan yang paling melelahkan dalam hidup di dominasi dalam rangka mengumpulkan harta. Sementara perjuangan lain seperti perjuangan membela agama,kehormatan,akal dan nyawa jarang tampil dalam pentas perjuangan yang melelahkan. Harta yang mengantar taat kepada pemberinnya, Alloh, sesungguhnya yang akan membawa bahagia. Sementara yang menjadikan jauh dan durhaka kepada pemberiNya justru akan menjadi siksa. Banyak yang setelah punya rumah bagus kehilangan indahnya tetangga dan teman-teman dekat bahkan kerabat karena harus di pagar tinggi, di jaga satpam tak jarang masih di tunggu binatang penjaga,membuat yang bertamu jadi mendatanginya ragu. Banyak yang setelah punya mobil kehilangan mengucap salam,berjalan ke masjid dan seringnya kesehatanya berkurang karena mulai malas berolahraga. Banyak yang setelah hpnya canggih mulai kehilangan keharmonisan keluarga. Waktu bicara begitu mahalnya untuk pasangan dan anak-anaknya, merasa cukup dengan sms dan bbm, sementara sisa waktunya untuk berkelana di facebook,twiter dan jejaring sosial lainya. Banyak yang setelah jabatannya naik mulai kehilangan silaturahim. Banyak yang setelah banyak bisnisnya mulai kehilangan waktu tilawah, duduk berdzikir dan apalagi hadir di majlis ilmu. Akhir kesudahanya bisa di tebak hatinya mulai gersang dan jiwanya tandus. Anggapnya banyaknya harta membawa tentramnya jiwa bahagia. Sedangkan pembuat hati tempat bahagia bersemayam ada telah mengukuhkan kaidah ” Ketahuilah hanya dengan selalu mengingat Alloh hati-hati manusia akan menjadi tentram (bahagia)… !”. Hanya dengan harta yang diajak mengingat Alloh hati bahagia. Hanya dengan keluarga yang di ajak mengingat Alloh keluarga bahagia. Hanya dengan bekerja dan bisnis yang di ajak mengingat Alloh hati bahagia…