Dengan Berat Hati

Dengan berat hati, Umar melepas pemuda itu dan menerima penjaminan yang dilakukan oleh Salman baginya. Tiga hari berlalu. Detik-detik menjelang eksekusi begitu menegangkan. Pemuda itu belum muncul.

Umar gelisah mondar mandir. Penggugat mendecak kecewa. Semua hadirin sangat mengkhawatirkan Salman. Sahabat perantau negeri, pengembara

iman itu mulia dan tercinta di hati Rasul dan

sahabatnya.

Mentari nyaris terbenam. Salman dengan tenang dan tawakal melangkah siap ke tempat qishash. Isak pilu tertahan. Tetapi sesosok bayang berlari terengah dalam

temaram, terseok dan nyaris merangkak.

“Itu dia!”pekik Umar.

aPemuda itu dengan tubuh berkuah peluh dan nafas putus-putus ambruk di pangkuan Umar…

“Maafkan aku,” ujarnya,”hampir terlambat..”

“Urusan kaumku memakan banyak waktu… Kupacu tungganganku tanpa henti hingga sekarat dan terpaksa kutinggal lalu aku berlari..”

“Demi Allah,”ujar Umar sambil menenangkan dan meminumi,”bukankah engkau bisa lari dari hukuman ini?

Mengapa susah payah kembali?”

“Supaya jangan sampai ada yang mengatakan,”ujar terdakwa dalam senyum,”di kalangan Muslimin tak ada lagi ksatria tepat janji..”

“Lalu kau, wahai Salman,” ujar Umar berkaca -kaca “mengapa mau jadi penjamin seseorang yang tak kaukenal sama sekali!”

“Agar jangan sampai dikatakan,”jawab Salman teguh,”di kalangan Muslimin tak ada lagi saling percaya&menanggung beban saudara..”

“Allahu Akbar!” pekik dua pemuda penggugat sambil memeluk terdakwanya,”Alloh&kaum Muslimin jadi saksi bahwa kami memaafkannya..”

“Kalian memaafkannya?”

Umar makin haru, “jadi dia tidak diqishash? Allahu Akbar! Mengapa?”

“Agar jangan ada yang merasa,”sahutkeduanya masih terisak, “di kalangan kaum Muslimin tak ada lagi kemaafan&kasih sayang..”